Tampilkan postingan dengan label jeruk purut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeruk purut. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2013

Manfaat daun jeruk purut

jeruk-purut
Jeruk Purut
Jeruk purut (Citrus hystrix DC, kaffir lime, kieffer lime, makrut, magrood), adalah komoditas rempah, dan penghasil minyak asiri yang cukup penting. Bagian tanaman yang dimanfaatkan adalah daun, dan kulit buahnya. Sebagai komoditas rempah, keberadaan daun dan buah jeruk purut cukup penting, namun dalam volume yang sangat kecil.
Ciri khas daun jeruk purut adalah terdiri dari dua bagian, dengan lekukan di tengahnya. Hingga sepintas, daun jeruk purut tampak seperti terdiri dari dua daun. Di atas daun pertama, tumbuh daun kedua yang berada di bagian atasnya. Warna daun jeruk purut hijau tua, dengan aroma harum dan tajam. Ciri khas buah jeruk purut, adalah kulitnya yang kasar, berlekuk-lekuk tak beraturan, dengan warna hijau tua. Meskipun kulit buah bisa menjadi kuning setelah masak, dalam praktek buah jeruk purut selalu dipanen ketika kulitnya masih hijau, tetapi buahnya sudah cukup tua. Bahkan di dataran rendah, buah jeruk, tidak pernah bisa menjadi kuning.
Di Thailand, jeruk purut merupakan komoditas penting, dan sudah dibudidayakan secara massal dalam skala komersial. Meskipun daun dan kulit buah jeruk purut bisa digunakan sebagai bumbu dalam keadaan kering, para juru masak di Thailand, cenderung menyukai daun dan kulit buah yang masih segar. Karenanya, komoditas daun jeruk purut diperlukan dalam keadaan segar, setiap hari, namun dalam volume yang terbatas. Dalam kemasan dan ruang penyimpanan yang baik, daun jeruk purut bisa bertahan selama sekitar satu minggu. Sementara buah dalam keadaan utuh, bisa bertahan untuk jangka waktu sekitar dua minggu.
# # #
Jeruk purut termasuk tanaman yang sangat lamban pertumbuhannya. Terlebih pada umur-umur awal. Namun setelah tanaman berumur lebih dari lima tahun, petani tinggal menikmati hasil, tanpa mengluarkan banyak uang untuk biaya perawatan. Tanaman jeruk purut berupa perdu, setinggi 3 – 5 meter, dengan tajuk yang tidak beraturan. Daun tumbuh berhadap-hadapan di sepanjang ranting, namun tidak pada  posisi sejajar. Seperti pada jenis jeruk lainnya, bunga tumbuh pada ujung ranting membentuk malai, namun dengan umur yang berlainan. Hingga mekarnya bunga tidak terjadi serentak. Akibatnya, tingkat kemasakan buah dalam satu ranting juga akan bervariasi.
Daging buah jeruk purut berwarna hijau keputihan, dengan air buah bening seperti halnya jeruk nipis. Di dalam daging buah itu terdapat cukup banyak biji. Biji ini bisa tumbuh ketika disemai, namun perkembangan semaian lebih lanjut, akan sangat lamban kemudian mati. Maka budi daya jeruk purut idealnya dengan menggunakan benih sambungan, dengan batang bawah Rough Lemon (Citrus jambhiri). Sentra produksi benih jeruk, termasuk jeruk purut, terdapat di Kab. Purworejo, Jawa Tengah. Harga benih jeruk purut di tingkat penangkar, berkisar antara Rp 5.000 sd. Rp 10.000. Sebenarnya jeruk purut juga bisa dicangkok, namun pertumbuhan benih asal cangkokan juga tidak secepat benih sambungan.
Pada awal penanaman, jeruk purut memerlukan naungan sampai tingkat kerapatan 50%. Di lahan terbuka dengan dengan intensitas sinar metahari mencapai 100%, pertumbuhan jeruk purut justru agak lamban. Produksi daun memang relatif tinggi, namun pertumbuhan cabang dan ranting agak lamban. Dengan adanya naungan, produksi daun sedikit terhambat, namun pertumbuhan cabang dan ranting lebih pesat. Sebab tanaman akan cenderung mengejar sinar matahari, hingga cabang serta rantingnya akan memanjang. Baru setelah tanaman setinggi sekitar 2 meter, naungan dikurangi, hingga kerapatan mencapai 20 sd. 30%. Naungan ini cukup penting, sebab di lahan terbuka 100%, daun jeruk purut justru akan menyempit, dan berwarna agak kekuningan.
Panen daun jeruk purut bisa dilakukan setiap hari. Di Indonesia, jeruk purut masih merupakan tanaman pekarangan, dengan populasi hanya satu dua pohon per individu. Pedagang akan membeli daun jeruk purut itu dengan sistem tebasan, kemudian memanen daun tua sampai habis. Akibatnya, produksi daun selanjutnya justru akan terhambat. Di Thailand, panen daun jeruk nipis dilakukan dengan pemetikan manual satu persatu, dipilih yang bentuknya sempurna, dengan ukuran seragam. Daun jeruk akan langsung dikemas dalam stereofoam, ditutup plastik, dan disimpan dalam cold storage selama pengangkutan untuk tujuan ekspor. Kecuali panen daun jeruk purut untuk konsumsi lokal, biasanya tanpa pengemasan seperti untuk ekspor.
# # #
Daun dan kulit buah jeruk purut, terutama dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Masakan seafood, dan ikan air tawar, mutlak memerlukan daun jeruk purut, untuk menetralkan bau amisnya. Memasak bumbu urap di Indonesia, juga menggunakan bumbu daun atau kulit buah jeruk purut, untuk menetralkan bau terasi di dalam bumbu tersebut. Daun jeruk purut biasanya digunakan sebagai bumbu bersamaan dengan batang sereh dapur. Di Indonesia, penggunaan daun jeruk purut sebagai bumbu, masih belum seintensif di Thailand, dan juga Malaysia. Hingga di warung dan tulang sayuran, keberadaan daun jeruk purut masih belum kontinu. Kalau pun ada, kualitas daun jeruk purut itu masih belum sebaik di Thailand danMalaysia.
Selain untuk bahan bumbu, daun dan kulit buah jeruk purut juga bisa didestilasi (disuling) untuk diambil minyak asirinya. Kafir Lime Oil merupakan minyak asiri dengan nilai cukup bagus. Di Thailand, daun dan buah jeruk purut yangberukuran kecil dan berpenampilan kurang menarik, tidak dipasarkan dalam bentuk segar untuk bumbu, melainkan disuling untuk diambil minyaknya. Destilasi daun dan kulit buah jeruk purut harus dipisahkan, sebab kualitas dan harga minyaknya di pasar internasional dibedakan. Pengambilan minyak daun dan kulit buah jeruk purut dilakukan dengan cara pengukusan biasa. Buah yang akan didestilasi kulitnya, daging buahnya dibuang. Biasanya air buah itu terlebih dahulu diambil, untuk keperluan bumbu masakan juga.
Budidaya jeruk purut relatif tidak memerlukan perawatan, seperti halnya pada budidaya jeruk buah (keprokm siam, manis). Tanaman muda cukup dipupuk dengan 1 kg pupuk kandang dan 0,1 kg urea, dengan interval empat bulan sekali. Pada tanaman di atas umur lima tahun, dosis pupuknya dinaikkan dua atau tiga kali lipat, tergantung tingkat kesuburan tanaman. Jeruk purut menghendaki pengairan yang cukup, agar bisa tetap dipanen daunnya pada musim kemarau. Sebab harga daun jeruk purut, akan tinggi pada musim kemarau. Sebab pada musim kemarau, produksi daun akan menurun. Namun dengan pengairan cukup, produksi daun, dan juga buah, justru akan meningkat pada musim kemarau. (R) # # #

Teknik Budidaya Jeruk Purut

Jeruk purut ternyata dapat menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Namun, fenomena ini tak dibaca dengan baik oleh kebanyakan orang.
“Dalam negeri saja, kita masih kesulitan mencari jeruk purut. Padahal permintaan tak hanya datang dari dalam negeri. Terlebih, untuk perusahaan yang bahan produksinya berbahan dasar jeruk purut,” kata Pembudidaya Jeruk Purut di Batu – Malang, Prambudi.

Sedikitnya pembudidaya jeruk purut di Tanah Air, karena kurangnya informasi tentang peluang dan manfaatnya secara umum. Melakukan budidaya jeruk purut, kata Prambudi, tidaklah sesulit yang dibayangkan. Bahkan ia mengawali budidaya jeruk purut ini, hanya bermodal dengkul alias tak banyak modal.

PERAWATAN DASAR JERUK PURUT
Dalam proses budidaya jeruk purut, menurut Prambudi, pada dasarnya tak banyak perbedaan dengan perlakuan jeruk pada umumnya. Penerapan beberapa treatment yang dapat dilakukan, diantaranya adalah:

1. Pemangkasan Cabang Jeruk Purut
Selama proses pemangkasan, ada beberapa faktor yang diperhatikan. Misalnya, perhitungan keuntungan yang meliputi stabilitas produktifitas tanaman, kemampuan hidup dan kualitas buah, perkembangan hama dan penyakit terhambat serta perawatan kebun.

Hal ini dibarengi juga dengan teknik pemangkasan, yaitu pangkas dasar dan pangkas pemeliharaan. Untuk pangkas dasar, merupakan pemangkasan yang dilakukan setelah tinggi tanaman telah melebihi 60 cm. Ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan percabangan dan bentuk pohon yang lebih baik, agar selanjutnya dapat berproduksi optimal dan memudahkan perawatan kebun.

Pemotongan batang utama, pemeliharaan tunas, kemudian pemilihan dan pemeliharaan cabang utama merupakan tahapan pemangkasan dasar. Sedangkan untuk pangkas pemeliharaan, dilakukan bersamaan atau setelah panen.
Tujuannya, untuk menjaga kesehatan, kestabilan produksi dan kualitas buah, serta untuk peremajaan dan pembentukan profil pohon.

2. Penjarangan Buah Jeruk Purut
Penjarangan pada pohon yang mempunyai buah lebat bertujuan untuk memperbaiki kualitas buah dan kestabilan pada musim panen berikutnya. Artinya, waktu yang ideal untuk proses penjarangan dilakukan pada saat diameter buah mencapai 1-2 cm.
3. Syarat Tumbuh Jeruk Purut
Mengingat, kelangsungan hidup dan optimalnya produktifitas tanaman bergantung pada perlakuan tumbuhnya, maka terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Misalnya kondisi iklim, media tanam, dan ketinggian tempat.
Untuk iklim, misalnya. Kecepatan angin yang lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah, sehingga alternatif untuk daerah dengan intensitas dan kecepatan anginnya lebih dari tingkat standar, sebaiknya tinggi tanaman penahan angin ditanam berderet tegak lurus dengan arah angin.

Demikan halnya dengan penerapan media tanam. Idealnya untuk jeruk purut, tanah yang baik adalah lempung sampai lempung berpasir dengan cukup humus, tata air, dan udara baik. Jenis tanah Andosol dan Latosol juga merupakan alternatif lain yang cocok untuk budidaya jeruk.

Itu didukung pula dengan kadar air tanah yang optimal ada pada kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah, dimana tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 30°. Dalam hal ketinggian tempat, untuk tanaman jenis jeruk purut ini akan dapat tumbuh baik di ketinggian 1–400 m dpl.
PROSES TANAM JERUK PURUT
Sebagai persyaratan benih bibit jeruk purut yang biasa ditanam berasal dari perbanyakan vegetatif, yaitu berupa penyambungan tunas pucuk, dimana sistem pembibitan ini biasa ditanam di area pesawahan dan lahan berlereng. Namun jika ditanam di area perbukitan, dapat menggunakan alternatif tanam dengan membuat sengkedan.

Sedangkan untuk lahan yang akan ditanami, sebaiknya dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Untuk ukuran jarak tanam idealnya 6×7 m, disesuaikan dengan karakter pertumbuhan jeruk purut.
Dalam pembuatan lubang tanam pun membutuhkan teknik khusus, yaitu hanya dapat diterapkan pada tanah yang belum diolah dalam jangka waktu 2 minggu, dimana tanah bagian dalam dipisahkan dari lapisan atas (setinggi 25 cm).

“Dengan aplikasi tanah yang berasal dari lapisan atas dan dicampur pupuk kandang. Setelah penanaman, tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Demikian halnya dengan bedengan berukuran 1x1x1 m hanya dibuat jika jeruk purut ditanam di area tanah sawah,” ungkap Prambudi.

Berbeda dengan tanaman jenis lain, teknik penanaman bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau. Tapi, menurut Prambudi, sebaiknya ditanam di awal musim hujan.
Setelah bibit ditaman, siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa, agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang.

Sebagai alternatif tumpang sari – sebelum tanaman berproduksi – dapat ditanam tanaman sela, seperti kacang-kacangan atau sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput atau tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk. [santi]

ANALISA USAHA BUDIDAYA
Biaya produksi
  • Sewa lahan 15 tahun            @ Rp 1.000.000  Rp 15.000.000
  • Bibit 400 tanaman                @ Rp 5.000        Rp 2.000.000
  • Pupuk Kandang 67 m2          @ Rp 15.000      Rp 1.005.000
  • Pupuk Urea 80 kg                @ Rp 5.000        Rp 400.000
  • Pupuk SP 65 kg                   @ Rp 5.000        Rp 325.000
  • Pupuk ZK 26 kg                   @ Rp 5.000        Rp 130.000
  • Pupuk Daun 3 liter               @ Rp 54.000       Rp 162.000
  • Obat dan Pestisida                                        Rp 3.000.000
  • Peralatan Rp 500.000 (+)
Jumlah Total Produksi                                         Rp 41.382.000

KETERANGAN MASA PANEN JERUK PURUT
  1. Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal. Biasanya berumur antara 28–36 minggu dan panen optimal pada tahun ke-3.
  2. Perkiraan Produksi, rata-rata tiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun.
  3. Perhitungan produksi belum termasuk daun yang juga dapat dimanfaatkan.